PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud pendidikan
seumur hidup?
2. Bagaimana konsep pendidikan
seumur hidup?
3. Apa hakikat pendidikan
seumur hidup?
4. Apa pentingnya pendidikan
seumur hidup?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan
Seumur Hidup
Arti pendidikan menurut Suparlan suhartono adalah segala kegiatan
pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan
kehidupan. Pendidikan berlangsung di segala jenis, bentuk, dan tingkat
lingkungan hidup, yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada
di dalam diri individu.
Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal
dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan
memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Pendidikan Seumur Hidup (Long Life Education)
adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta
komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, sikap, perilaku dan dalam
penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita.
Pendidikan
seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah
sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas
belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, bukan itu
yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian
belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua
situasi dan semua hal.…
Belajar
berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan
hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup
manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan
sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal.
Dalam
Pendidikan atau Belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge)
dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri
manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan
berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup,
mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai
hidup kita. Dalam
agama sering kita dengar kalimat “Belajarlah (tuntutlah ilmu) dari buaian
sampai liang lahat”. Belajar merupakan tugas semua
manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut.
Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu
atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar
bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.
Pendidikan tidaklah selesai setelah berakhirnya masa
sekolah, tetapi merupakan sebuah proses yang berlangsung sepanjang hidup.
Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai pendidikan orang dewasa, tetapi
mencakup dan memadukan semua tahap memadukan semua tahap pendidikan (pendidikan
anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi).
B.
Konsep Pendidikan
Seumur Hidup
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan
rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung
jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu azaz bahwa pendidikan
adalah suatu proses yang terus menerus dari bayi sampai meninggal dunia. Konsep
ini sesuai dengan konsep Islam seperti yang tercantum dalam hadits Nabi
Muhammad SAW, yang menganjurkan belajar mulai dari buaian sampai ke liang
kubur.
Pendidikan bisa dimulai dari
beberapa tahap diantaranya adalah :
1.
Pendidikan Prenatal (Pendidikan
Masa Dalam Kandungan)
Sebagaimana kita ketahui bahwa pada umumnya pendidikan itu dimulai sesudah
anak lahir (Post natal), namun dewasa ini timbul wacana baru yang meyatakan
bahwa pendidikan dapat dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Pendapat ini
diperkuat dengan pendapat Prof. DR. H. Baihaqi AK yang menyetir pendapat Arthur
T. Menyatakan bahwa anak di dalam kandungan
(yang telah mendapat roh) sudah mampu merespon terhadap segala stimulus dari
lingkungan luarnya yang kadang-kadang ibu yang mengandungnya tidak
menyadarinya. Penemuan ini dapat diterima ilmuwan muslim karena islam sudah
menjelaskannya. Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa roh (nyawa) yang ditiupkan
malaikat, yang lantas memberi hidup kepada anak di dalam kandungan, sudah
memiliki daya kognitif tinggi
Tujuan orangtua atau bapak ibu mendidik anak dalam kandungan adalah agar
anak tersebut kelak menjadi anak shaleh, taqwa kepada Allah SWT, berakhlak
mulia, aktif dan kreatif, mandiri, berjiwa demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan ini dilaksanakan dengan beberapa metode seperti melaksanakan ibadah,
membaca, menghafalkan, dzikir, mengikuti pengajian, bermain, bernyanyi dan
bercerita. Materi yang digunakan adalah praktek ibadah, bahasa, Al-Qur’an dan
hadits serta bacaan-bacaan yang baik, akhlak mulia, aqidah, syari’ah, sejarah
Islam dan ilmu pengetahuan yang lain.
Agar pendidikan membawa hasil yang maksimal, pendidik hendaknya rajin
berdoa atau memohon kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan
jalan banyak melaksanakan shalat, puasa baik yang wajib maupun yang sunnah
serta banyak memberikan shadaqah kepada mereka yang membutuhkan.
2.
Pendidikan Anak Pada Usia Dini
Yang dimaksud usia dini yaitu usia awal dari perkembangan kehidupan
manusia. Usia dini merupakan usia setrategis kehidupan manusia, karena itu
tepat atau tidaknya bimbingan yang diberikan kepada anak pada usia tersebut berpengaruh
besar terhadap baik atau buruknya perkembangan anak di kemudian hari.
Pendidikan usia dini terbagi menjadi :
a.
Masa Bayi
Masa bayi berlangsung sejak lahir sampai dengan umur 2 tahun. Masa ini
mencakup beberapa periode perkembangan yang pendek. Pertama adalah masa infancy
(orok), yang berlangsung selama dua minggu sejak lahir. Dalam masa ini terjadi
pula dua fase, fase partunal dan fase neonatal. Fase partunal adalah fase yang
berlangsung kurang lebih 30 menit setelah bayi lahir. Ia tidak berusaha
menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi masih merasa bersatu dan tergantung
100% pada ibunya. Sedangkan fase neonatal adalah saat plasenta dipotong, saat
ini bayi otomatis berdiri sendiri sebagai individu yang mempunyai sedikit
kebebasan dibandingkan dengan saat-saat sebelumnya.
Masa orok merupakan periode terpendek dalam kehidupan manusia. Namun
demikian, pada periode ini anak melakukan penyesuaian diri secara radikal
terhadap lingkungannya. Ia diharapkan pada situasi dan kondisi yang benar-benar
berbeda dengan situasi dan kondisi di dalam perut ibunya.
Kedua, masa babyhood. Masa ini berlangsung sejak anak berumur 2 minggu
sampai dengan umur 2 tahun. Pada masa ini terjadi perubahan dan pertumbuhan
pada anak, sekaligus masa berkurangnya ketergantungan anak dengan ibunya dan
awal munculnya individualitas. Pada saat ini juga, anak mulai belajar mengenal
orang lain selain dirinya ataupun ibunya dan harus menyesuaikan diri dengan
berbagai tuntutan lingkungan (sosialisasinya).
b.
Masa Kanak-kanak
Masa ini berlangsung mulai anak umur 2 tahun sampai dengan umur 6/7 tahun. Pada
masa ini anak semakin bertambah daya pikirnya dan merasa lebih mandiri. Mereka
merasa mampu mengatasi lingkungan sendiri tanpa bantuan orang lain. Suka
membantah orang tua dan banyak bertanya. Selama dalam periode ini di dapati
kadang-kadang sikap unik yaitu anak melakukan kebohongan yang berupa
fantasi.Pada saat ini anak berbuat bohong adalah tentang sesuatu yang tidak disengaja, tidak
disadari, tanpa mengandung maksud-maksud tertentu. Kebohongan ini dilakukan
karena ia tidak dapat membedakan tanggapan ingatan dengan tanggapan fantasi.
Pendidian yang diberikan kepada anak usia dini adalah pendidikan keimanan,
akhlakul karimah, ibadah dan bermasyarakat. Sedangkan metode yang digunakan
adalah pembiasaan, pembentukan pengertian, sikap dan minat, suri tauladan, pemberian
tugas, pemberian latihan, pemberian penjelasan dan bercerita. Selanjutnya
apabila materi-materi disampaikan dengan metode yang tepat, maka anak akan
menjadi pribadi shaleh, cerdas, bertanggung jawab dan mandiri.
3.
Pendidikan Anak Pada Usia Sekolah
Usia keserasian sekolah adalah usia antara 6-13 tahun. Pada usia ini anak
sudah saatnya masuk sekolah karena mereka sudah dapat menyesuaikan diri dengan
aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah. Di samping itu kondisi mereka baik
jasmani maupun rohani siap bersekolah. Secara jasmani sudah bisa duduk beberapa
saat atau mampu mengerjakan tugas-tugas tertentu yang berkaitan dengan
penggunaan tenaga fisik. Kondisi psikis seperti intelektual, perasaan,
kemalasan sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga sudah saatnya pula
mendapatkan bimbingan, pembinaan dari guru atau pendidik. Apabila mereka
diarahkan dan dibimbing dalam berbagai aspek sesuai dengan petunjuk islam maka
akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi muda yang dapat melanjutkan estafet
pembangunan generasi sebelumnya.
4.
Pendidikan pada usia Remaja
Irwanto menyatakan bahwa periode remaja adalah periode transisi yaitu dari
periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa yang
amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian
individu.
Menurut Sumardi Suryabrata usia Pubertas (Remaja) adalah periode saat
seorang anak mulai menemukan dirinya sendiri, meneliti sikap hidup yang lama
dan mencoba-coba yang baru untuk menjadi dewasa.
Dari kedua pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa usia remaja merupakan usia sangat menentukan bagi
perkembangan hidup seseorang. Disamping itu pada usia itu ditandai semakin
berkembangnya fungsi organis dan fungsi psikis menuju kematangan.
Pendidikan yang diberikan pada usia remaja adalah dengan memberikan
pedoman-pedoman yang bermanfaat bagi mengatasi jiwa remaja yang sedang guncang,
dengan berpegang teguh kepada iman, melakukan ibadah secara tekun dan khusu’,
berakhlakul karimah, serta memiliki tanggung jawab sosial yang sangat tinggi,
akan mencegah terjerumusnya remaja kepada perbuatan terlarang dan akan memacu
mereka untuk berlomba-lomba melaksanakan kebajikan.
5.
Pendidikan pada usia Dewasa
Di dalam Islam, keutamaan pribadi sangat diutamakan. Sebab pendidikan
pribadi mempunyai arti penting bagi pembentukan insan taqwa. Di dalam Alqur’an
dijelaskan:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan” (Q.S. At-Tahrim : 6)
Diri sendiri inilah selanjutnya yang dituntut oleh Islam agar menjadi
manusia yang bertaqwa. Umumnya taqwa diartikan memelihara diri dari siksa Allah
dengan cara melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi
terhadap segala yang dilarang-Nya.
“Dan bahwasanya seseorang manusia tiada memperoleh selain apa yang
diusahakannya.” (QS. An-Najm : 39)
Islam memandang bahwa pendidikan adalah sangat penting bagi kehidupan
manusia, sebab hanya dengan pendidikanlah manusia dapat menjadi manusia dalam
arti yang sebenarnya. Sehubungan dengan inilah, maka ayat pertama yang
diturunkan oleh Allah pada awal kenabian Nabi Muhammad saw ialah berkiatan
dengan pendidikan.
Allah SWT berfirman :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan penentuan kalam. Dia mengajar kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5)
Pendidikan pada usia dewasa adalah pendidikan pribadi. Untuk membina
pribadi dilakukanlah usaha-usaha sebagai berikut :
a.
Pembinaan amalan-amalan lidah;
membaca Al-Qur’an, hadits, mempelajari berbagai ilmu, membaca do’a, melafalkan
dzikir dan lain-lain.
b.
Pembinaan amalan anggota badan,
ini ada 3 macam yaitu:
1.
Yang berhubungan dengan badan
seperti; bersuci, menutup aurat, shalat, zakat, puasa, haji, umrah dan
lain-lain.
2.
Yang berhubungan dengan perbuatan
seperti; menjaga dan memelihara tubuh, mengurus dan membiayai anak, istri dan
keluarga, berbakti pada orang tua, mendidik anak dan lain-lain.
3.
Yang berhubungan dengan
masyarakat seperti; tolong-menolong dalam kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar,
menegakkan hukum-hukum Allah, menunaikan amanat, memuliakan tetangga, mencari
harta dengan cara yang halal dan lain-lain.
c.
Pembinaan amalan hati seperti;
mempercayai dan meyakini rukun iman, cinta kepada nabi, ikhlas dalam beramal,
taubat, takut kepada Allah, tawakkal, meninggalkan sifat takabbur dan
lain-lain.
6.
Pendidikan Pada Lansia
Lansia merupakan periode terakhir dari kehidupan manusia setelah menjalani
hidup sebagai bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa dan selanjutnya sampai meninggal
dunia. Lanjut usia ini ditandai dengan semakin menurunnya kemampuan dan
kekuatan fisik, psikis atau mental. Akibat dari semakin menurunnya kondisi
tersebut di atas adalah timbulnya berbagai hambatan atau rintangan sehingga
apabila tidak diantisipasi secara tepat akan menimbulkan berbagai permasalahan
yang serius baik diri, keluarga dan masyarakat.
Perbuatan yang bersifat mendidik yang dapat dilaksanakan pada usia ini
adalah melaksanakan pola hidup sehat, seperti makan, bekerja, olahraga dan
istirahat, mendalami agama baik dilakukan secara mandiri maupun berkelompok
serta menempuh hidup model sufi. Dengan cara demikian orang akan dapat hidup
tentram dan bahagia hidup di dunia dan di akherat.
C.
Hakikat Pendidikan Seumur Hidup
Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin
semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di
dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar
bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dari dahulu sudah dapat dilihat
bahwa pada hakikatnya orang belajar sepanjang hidup, meskipun dengan cara
yang berbeda dan melalui proses yang tidak sama. Jelasnya tidak ada batas usia
yang menunjukan tidak mungkinnya dan tidak dapatnya orang belajar. Jika seorang
petani yang sudah tua berusaha mencari tahu mengenai cara-cara baru dalam
bercocok tanam, pemberantasan hama, dan pemasaran hasil yang lebih
menguntungkan, itu adalah pertanda bahwa belajar itu tidak dibatasi usia. Dorongan
belajar sepanjang hayat itu terjadi karena dirasakan sebagai kebutuhan. Setiap
orang merasa butuh untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya dalam menghadapi
dorongan-dorongan dari dalam dan tantangan alam sekitar, yang selalu
berubah.
Tiga komponen yang saling berhubungan satu
dengan lainnya, yaitu individu; masyarakat; dan lingkungan fisik. perkembangan
dan perubahan yang juga mencakup tiga komponen yakni ;
1. Tahap-tahap
perkembangan individu, meliputi masa balita, masa kanak-kanak, masa sekolah, masa remaja, dan masa dewasa
2. Peranan-peranan
sosial yang umum dan unik dalam kehidupan, yang berbeda-beda di setiap
lingkungan hidup; dan
3. Aspek-aspek
perkembangan kepribadian, meliputi; fisik, mental, sosial, dan emosional.
Pendidikan sepanjang hayat (PSH) atau pendidikan seumur hidup yang secara
operasional sering pula disebut pendidikan sepanjang raga (long life education)
bukanlah sesuatu yang baru.
Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera
setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia,
sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses
pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat . Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi
proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar
kepribadian anak. Pendidikan anak diperoleh terutama melalui interaksi antara
orang tua – anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua akan menunjukkan
sikap dan perlakuan tertentu sebagai perwujudan pendidikan terhadap anaknya.
Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga.
Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua
setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan
sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar
apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan
sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan
dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya.
Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan,
karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak
memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di
sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai
moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi,
serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentu yang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga
kerja.
Pendidikan di masyarakat merupakan bentuk pendidikan yang diselenggarakan
di luar keluarga dan sekolah. Bentuk pendidikan ini menekankan pada pemerolehan
pengetahuan dan keterampilan khusus serta praktis yang secara langsung
bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat.
D. Pentingnya Pendidikan Seumur Hidup
Perlunya pendidikan seumur hidup dalam beberapa hal :
1. Pertimbangan ekonomi
Menurut pandangan tokoh
pendidikan seumur hidup, pembentukan sistem pendidikan berfungsi sebagai basic
untuk memperoleh ketrampilan ekonomis berharga dan menguntungkan. Tidak berarti
mereka menekankan bahwa pendidikan seumur hidup akan dapat meningkatkan
produktivitas pekerja dan akan meningkatkan keuntungan, tapi hal terpenting
adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, memperbesar pemenuhan diri,
melepaskan dari kebodohan, kemiskinan, dan eksplorasi.
2. Keadilan
Keadilan dalam memperoleh
pendidikan seumur hidup diusahakan oleh pemerintah. Dalam konteks keadilan
pendidikan seumur hidup pada prinsipnya bertujuan untuk mengeliminasi pesanan
sekolah sebagai alat untuk melestaikan ketidakadilan.
3. Faktor peranan keluarga
Keluarga berfungsi sebagai
sentral sumber pendidikan pada waktu silam. Pendidikan seumur hidup dapat
memperlengkapi kerangka organisasi yang memungkinkan pendidikan mengambil alih
tugas yang dulunya ditangani keluarga. Dalam masalah ini harus diperhatikan
bahwa penekanan peranan pendidikn seumur hidup sebagai pembantu keluarga,
berarti akan memperluas sistem pendidikan agar dapat menjangkau anak-anak awal
dan orang dewasa.
4. Faktor perubahan peranan sosial
Pendidikan seumur hidup harus
berisi elemen penting yang kuat dan memainkan peranan sosial yang amat beragam
untuk mempermudah individu melakukan penyesuaian terhadap perubahan hubungan
antara mereka/orang lain.
5. Perubahan teknologi
Pertumbuhan teknologi
menyebabkan peningkatan penyediaan informasi yang berakibat pada meningkatnya
usia harapan hidup dan menurunnya angka kematian. Semakin banyaknya tersedia
kekayaan materi yang berakibat kenudiaan dan materialisme menjiwai nilai-nilai
budaya dan spiritual serta berakibat pula kerenggangan dan keterasingan manusia
satu dengan lainnya.
6. Faktor vocational
Pendidikan vocational
diberikan untuk mempersiapkan tenaga kejuruan yang handal, trampil untuk
menghadapi tantangan masa depan.
7. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa
Orang dewasa mengalami efek
cepatnya perubahan dalam bidang ketrampilan yang mereka miliki, maka diupayakan
sistem pendidikan yang mampu mendidik orang dewasa. Secara radikal perubahan
pandangan mengenai kapan seseorang harus disekolahkan dan sekolah apa yang
dalam hal ini memerlukan politik pendidikan seumur hidup.
8. Kebutuhan anak-anak awal
Masa anak-anak awal merupakan
fase perkembangan yang mempunyai karakteristik tersendiribukan semata-mata masa
penantian untuk memasuki periode anak-anak, remaja dan dewasa. Masa anak-anak awal merupakan basis untuk perkembangan kejiwaan selanjutnya
meskipun dalam tingkat tertentu pengalaman-pengalaman yang datang belakangan
dapat memodifikasi perkembangan yang pondasinya sudah diletakkan oleh
pengalaman sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan merupakan hak hidup bagi semua orang
pada setiap tahap umur (anak-anak, remaja, dan dewasa), yang dapat diperoleh
baik dalam keluarga, lingkungan, maupun disekolah. Semenjak dalam kandungan,
seorang anak sudah mendapat ajaran dan pendidikan dasar dari keluarganya,
terutama dari seorang ibu. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan
di dalam kehidupan keluarga, sekolah dan masyarakat. Kewajiban belajar itu
tidak dibatasi oleh umur, oleh karena itu hidup berumah tangga tidak menghalangi
keharusan menuntut ilmu, atau nikah dan belajar dapat sejalan, tidak harus
dipertentangkan. Prinsip pendidikan
dalam Islam adalah pendidikan seumur hidup, long life education:
أطلب العلـم من المـهد إلى اللـهد
“Tuntutlah
ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat”.
B. Saran
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti
sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya,
maka seorang siswa lebih termotivasi untuk belajar agar mampu membawa bangsa
bersaing secara sehat dalam segala bidang dan mampu bersaing di dunia
internasional.
DAFTAR PUSTAKA
AK, Baihaqi. 2001. Mendidik Anak Dalam Kandungan Menurut Ajaran
Pedagosis Islam. Darul Ulum Press, Jakarta
http://indomaterikuliah.blogspot.co.id/2015/03/makalah-pendidikan-seumur-hidup.pip.html
Ihsan, Fuad. 2003. Dasar-Dasar Pendidikan.PT. Rineka Cipta, Jakarta
Suhartono, Suparlan. 2009. Filsafat Pendidikan. Ar-Ruzz Media,
Jogjakarta
Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Raja Grafindo
Persada, Jakarta
Uhbiyati, Nur. 2009. Long Life Education Pendidikan Anak Sejak Dalam
Kandungan Sampai Lansia. Walisongo Press, Semarang