Minggu, 27 November 2016

Makalah Pendidikan Seumur Hidup


PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud pendidikan seumur hidup?
2. Bagaimana konsep pendidikan seumur hidup?
3. Apa hakikat pendidikan seumur hidup?
4. Apa pentingnya pendidikan seumur hidup?
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Pendidikan Seumur Hidup
Arti pendidikan menurut Suparlan suhartono adalah segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan. Pendidikan berlangsung di segala jenis, bentuk, dan tingkat lingkungan hidup, yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada di dalam diri individu.[1]
Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Pendidikan Seumur Hidup (Long Life Education) adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita.
Pendidikan seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal.  
Belajar berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal.
Dalam Pendidikan atau Belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge) dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup, mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai hidup kita. Dalam agama sering kita dengar kalimat “Belajarlah (tuntutlah ilmu) dari buaian sampai liang lahat”. Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.
Pendidikan tidaklah selesai setelah berakhirnya masa sekolah, tetapi merupakan sebuah proses yang berlangsung sepanjang hidup. Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai pendidikan orang dewasa, tetapi mencakup dan memadukan semua tahap memadukan semua tahap pendidikan (pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi).

B.  Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu azaz bahwa pendidikan adalah suatu proses yang terus menerus dari bayi sampai meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep Islam seperti yang tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW, yang menganjurkan belajar mulai dari buaian sampai ke liang kubur.[2]
Pendidikan bisa dimulai dari beberapa tahap diantaranya adalah :
1.    Pendidikan Prenatal (Pendidikan Masa Dalam Kandungan)
Sebagaimana kita ketahui bahwa pada umumnya pendidikan itu dimulai sesudah anak lahir (Post natal), namun dewasa ini timbul wacana baru yang meyatakan bahwa pendidikan dapat dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Pendapat ini diperkuat dengan pendapat Prof. DR. H. Baihaqi AK yang menyetir pendapat Arthur T. Menyatakan bahwa  anak di dalam kandungan (yang telah mendapat roh) sudah mampu merespon terhadap segala stimulus dari lingkungan luarnya yang kadang-kadang ibu yang mengandungnya tidak menyadarinya. Penemuan ini dapat diterima ilmuwan muslim karena islam sudah menjelaskannya. Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa roh (nyawa) yang ditiupkan malaikat, yang lantas memberi hidup kepada anak di dalam kandungan, sudah memiliki daya kognitif tinggi[3]
Tujuan orangtua atau bapak ibu mendidik anak dalam kandungan adalah agar anak tersebut kelak menjadi anak shaleh, taqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, aktif dan kreatif, mandiri, berjiwa demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan ini dilaksanakan dengan beberapa metode seperti melaksanakan ibadah, membaca, menghafalkan, dzikir, mengikuti pengajian, bermain, bernyanyi dan bercerita. Materi yang digunakan adalah praktek ibadah, bahasa, Al-Qur’an dan hadits serta bacaan-bacaan yang baik, akhlak mulia, aqidah, syari’ah, sejarah Islam dan ilmu pengetahuan yang lain.
Agar pendidikan membawa hasil yang maksimal, pendidik hendaknya rajin berdoa atau memohon kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan banyak melaksanakan shalat, puasa baik yang wajib maupun yang sunnah serta banyak memberikan shadaqah kepada mereka yang membutuhkan.[4]
2.    Pendidikan Anak Pada Usia Dini
Yang dimaksud usia dini yaitu usia awal dari perkembangan kehidupan manusia. Usia dini merupakan usia setrategis kehidupan manusia, karena itu tepat atau tidaknya bimbingan yang diberikan kepada anak pada usia tersebut berpengaruh besar terhadap baik atau buruknya perkembangan anak di kemudian hari. Pendidikan usia dini terbagi menjadi :
a.    Masa Bayi
Masa bayi berlangsung sejak lahir sampai dengan umur 2 tahun. Masa ini mencakup beberapa periode perkembangan yang pendek. Pertama adalah masa infancy (orok), yang berlangsung selama dua minggu sejak lahir. Dalam masa ini terjadi pula dua fase, fase partunal dan fase neonatal. Fase partunal adalah fase yang berlangsung kurang lebih 30 menit setelah bayi lahir. Ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi masih merasa bersatu dan tergantung 100% pada ibunya. Sedangkan fase neonatal adalah saat plasenta dipotong, saat ini bayi otomatis berdiri sendiri sebagai individu yang mempunyai sedikit kebebasan dibandingkan dengan saat-saat sebelumnya.
Masa orok merupakan periode terpendek dalam kehidupan manusia. Namun demikian, pada periode ini anak melakukan penyesuaian diri secara radikal terhadap lingkungannya. Ia diharapkan pada situasi dan kondisi yang benar-benar berbeda dengan situasi dan kondisi di dalam perut ibunya.
Kedua, masa babyhood. Masa ini berlangsung sejak anak berumur 2 minggu sampai dengan umur 2 tahun. Pada masa ini terjadi perubahan dan pertumbuhan pada anak, sekaligus masa berkurangnya ketergantungan anak dengan ibunya dan awal munculnya individualitas. Pada saat ini juga, anak mulai belajar mengenal orang lain selain dirinya ataupun ibunya dan harus menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan lingkungan (sosialisasinya).
b.    Masa Kanak-kanak
Masa ini berlangsung mulai anak umur 2 tahun sampai dengan umur 6/7 tahun. Pada masa ini anak semakin bertambah daya pikirnya dan merasa lebih mandiri. Mereka merasa mampu mengatasi lingkungan sendiri tanpa bantuan orang lain. Suka membantah orang tua dan banyak bertanya. Selama dalam periode ini di dapati kadang-kadang sikap unik yaitu anak melakukan kebohongan yang berupa fantasi.Pada saat ini anak berbuat bohong adalah  tentang sesuatu yang tidak disengaja, tidak disadari, tanpa mengandung maksud-maksud tertentu. Kebohongan ini dilakukan karena ia tidak dapat membedakan tanggapan ingatan dengan tanggapan fantasi.
Pendidian yang diberikan kepada anak usia dini adalah pendidikan keimanan, akhlakul karimah, ibadah dan bermasyarakat. Sedangkan metode yang digunakan adalah pembiasaan, pembentukan pengertian, sikap dan minat, suri tauladan, pemberian tugas, pemberian latihan, pemberian penjelasan dan bercerita. Selanjutnya apabila materi-materi disampaikan dengan metode yang tepat, maka anak akan menjadi pribadi shaleh, cerdas, bertanggung jawab dan mandiri.[5]

3.    Pendidikan Anak Pada Usia Sekolah
Usia keserasian sekolah adalah usia antara 6-13 tahun. Pada usia ini anak sudah saatnya masuk sekolah karena mereka sudah dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang diberlakukan di sekolah. Di samping itu kondisi mereka baik jasmani maupun rohani siap bersekolah. Secara jasmani sudah bisa duduk beberapa saat atau mampu mengerjakan tugas-tugas tertentu yang berkaitan dengan penggunaan tenaga fisik. Kondisi psikis seperti intelektual, perasaan, kemalasan sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga sudah saatnya pula mendapatkan bimbingan, pembinaan dari guru atau pendidik. Apabila mereka diarahkan dan dibimbing dalam berbagai aspek sesuai dengan petunjuk islam maka akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi muda yang dapat melanjutkan estafet pembangunan generasi sebelumnya.[6]

4.    Pendidikan pada usia Remaja
Irwanto menyatakan bahwa periode remaja adalah periode transisi yaitu dari periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.
Menurut Sumardi Suryabrata usia Pubertas (Remaja) adalah periode saat seorang anak mulai menemukan dirinya sendiri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru untuk menjadi dewasa.[7]
 Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa usia remaja merupakan usia sangat menentukan bagi perkembangan hidup seseorang. Disamping itu pada usia itu ditandai semakin berkembangnya fungsi organis dan fungsi psikis menuju kematangan.
Pendidikan yang diberikan pada usia remaja adalah dengan memberikan pedoman-pedoman yang bermanfaat bagi mengatasi jiwa remaja yang sedang guncang, dengan berpegang teguh kepada iman, melakukan ibadah secara tekun dan khusu’, berakhlakul karimah, serta memiliki tanggung jawab sosial yang sangat tinggi, akan mencegah terjerumusnya remaja kepada perbuatan terlarang dan akan memacu mereka untuk berlomba-lomba melaksanakan kebajikan.[8]

5.    Pendidikan pada usia Dewasa
Di dalam Islam, keutamaan pribadi sangat diutamakan. Sebab pendidikan pribadi mempunyai arti penting bagi pembentukan insan taqwa. Di dalam Alqur’an dijelaskan:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S. At-Tahrim : 6) [9]
Diri sendiri inilah selanjutnya yang dituntut oleh Islam agar menjadi manusia yang bertaqwa. Umumnya taqwa diartikan memelihara diri dari siksa Allah dengan cara melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi terhadap segala yang dilarang-Nya.
  
“Dan bahwasanya seseorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya.” (QS. An-Najm : 39)[10]
Islam memandang bahwa pendidikan adalah sangat penting bagi kehidupan manusia, sebab hanya dengan pendidikanlah manusia dapat menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Sehubungan dengan inilah, maka ayat pertama yang diturunkan oleh Allah pada awal kenabian Nabi Muhammad saw ialah berkiatan dengan pendidikan.
Allah SWT berfirman :
  
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan penentuan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq : 1-5)[11]
Pendidikan pada usia dewasa adalah pendidikan pribadi. Untuk membina pribadi dilakukanlah usaha-usaha sebagai berikut :
a.       Pembinaan amalan-amalan lidah; membaca Al-Qur’an, hadits, mempelajari berbagai ilmu, membaca do’a, melafalkan dzikir dan lain-lain.
b.      Pembinaan amalan anggota badan, ini ada 3 macam yaitu:
1.      Yang berhubungan dengan badan seperti; bersuci, menutup aurat, shalat, zakat, puasa, haji, umrah dan lain-lain.
2.      Yang berhubungan dengan perbuatan seperti; menjaga dan memelihara tubuh, mengurus dan membiayai anak, istri dan keluarga, berbakti pada orang tua, mendidik anak dan lain-lain.
3.      Yang berhubungan dengan masyarakat seperti; tolong-menolong dalam kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan hukum-hukum Allah, menunaikan amanat, memuliakan tetangga, mencari harta dengan cara yang halal dan lain-lain.
c.       Pembinaan amalan hati seperti; mempercayai dan meyakini rukun iman, cinta kepada nabi, ikhlas dalam beramal, taubat, takut kepada Allah, tawakkal, meninggalkan sifat takabbur dan lain-lain.[12]

6.    Pendidikan Pada Lansia
Lansia merupakan periode terakhir dari kehidupan manusia setelah menjalani hidup sebagai bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa dan selanjutnya sampai meninggal dunia. Lanjut usia ini ditandai dengan semakin menurunnya kemampuan dan kekuatan fisik, psikis atau mental. Akibat dari semakin menurunnya kondisi tersebut di atas adalah timbulnya berbagai hambatan atau rintangan sehingga apabila tidak diantisipasi secara tepat akan menimbulkan berbagai permasalahan yang serius baik diri, keluarga dan masyarakat.
Perbuatan yang bersifat mendidik yang dapat dilaksanakan pada usia ini adalah melaksanakan pola hidup sehat, seperti makan, bekerja, olahraga dan istirahat, mendalami agama baik dilakukan secara mandiri maupun berkelompok serta menempuh hidup model sufi. Dengan cara demikian orang akan dapat hidup tentram dan bahagia hidup di dunia dan di akherat.[13]

C.  Hakikat Pendidikan Seumur Hidup
Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar,  belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dari dahulu sudah dapat dilihat  bahwa pada hakikatnya orang belajar sepanjang hidup, meskipun dengan cara yang berbeda dan melalui proses yang tidak sama. Jelasnya tidak ada batas usia yang menunjukan tidak mungkinnya dan tidak dapatnya orang belajar. Jika seorang petani yang sudah tua berusaha mencari tahu mengenai cara-cara baru dalam bercocok tanam, pemberantasan hama, dan  pemasaran hasil yang lebih menguntungkan, itu adalah pertanda bahwa belajar itu tidak dibatasi usia. Dorongan belajar sepanjang hayat itu terjadi karena dirasakan sebagai kebutuhan. Setiap orang merasa butuh untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya dalam menghadapi dorongan-dorongan dari dalam dan tantangan alam sekitar, yang selalu  berubah.
Tiga komponen yang saling  berhubungan satu dengan lainnya, yaitu individu; masyarakat; dan lingkungan fisik. perkembangan dan perubahan yang juga mencakup tiga komponen yakni ;
1.    Tahap-tahap perkembangan individu, meliputi masa balita, masa kanak-kanak,  masa sekolah, masa remaja, dan masa dewasa
2.    Peranan-peranan sosial yang umum dan unik dalam kehidupan, yang berbeda-beda di setiap lingkungan hidup; dan
3. Aspek-aspek perkembangan kepribadian, meliputi; fisik, mental, sosial, dan emosional. Pendidikan sepanjang hayat (PSH) atau pendidikan seumur hidup yang secara operasional sering pula disebut pendidikan sepanjang raga (long life education) bukanlah sesuatu yang baru.
Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat . Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar kepribadian anak. Pendidikan anak diperoleh terutama melalui interaksi antara orang tua – anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua akan menunjukkan sikap dan perlakuan tertentu sebagai perwujudan pendidikan terhadap anaknya.
Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga.
Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya.
Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentu yang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.
Pendidikan di masyarakat merupakan bentuk pendidikan yang diselenggarakan di luar keluarga dan sekolah. Bentuk pendidikan ini menekankan pada pemerolehan pengetahuan dan keterampilan khusus serta praktis yang secara langsung bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat.

D.    Pentingnya Pendidikan Seumur Hidup
Perlunya pendidikan seumur hidup dalam beberapa hal : 
1. Pertimbangan ekonomi      
            Menurut pandangan tokoh pendidikan seumur hidup, pembentukan sistem pendidikan berfungsi sebagai basic untuk memperoleh ketrampilan ekonomis berharga dan menguntungkan. Tidak berarti mereka menekankan bahwa pendidikan seumur hidup akan dapat meningkatkan produktivitas pekerja dan akan meningkatkan keuntungan, tapi hal terpenting adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, memperbesar pemenuhan diri, melepaskan dari kebodohan, kemiskinan, dan eksplorasi.     
2. Keadilan     
            Keadilan dalam memperoleh pendidikan seumur hidup diusahakan oleh pemerintah. Dalam konteks keadilan pendidikan seumur hidup pada prinsipnya bertujuan untuk mengeliminasi pesanan sekolah sebagai alat untuk melestaikan ketidakadilan.
3. Faktor peranan keluarga
            Keluarga berfungsi sebagai sentral sumber pendidikan pada waktu silam. Pendidikan seumur hidup dapat memperlengkapi kerangka organisasi yang memungkinkan pendidikan mengambil alih tugas yang dulunya ditangani keluarga. Dalam masalah ini harus diperhatikan bahwa penekanan peranan pendidikn seumur hidup sebagai pembantu keluarga, berarti akan memperluas sistem pendidikan agar dapat menjangkau anak-anak awal dan orang dewasa.
4. Faktor perubahan peranan sosial    
            Pendidikan seumur hidup harus berisi elemen penting yang kuat dan memainkan peranan sosial yang amat beragam untuk mempermudah individu melakukan penyesuaian terhadap perubahan hubungan antara mereka/orang lain.
5. Perubahan teknologi          
            Pertumbuhan teknologi menyebabkan peningkatan penyediaan informasi yang berakibat pada meningkatnya usia harapan hidup dan menurunnya angka kematian. Semakin banyaknya tersedia kekayaan materi yang berakibat kenudiaan dan materialisme menjiwai nilai-nilai budaya dan spiritual serta berakibat pula kerenggangan dan keterasingan manusia satu dengan lainnya.
6. Faktor vocational   
            Pendidikan vocational diberikan untuk mempersiapkan tenaga kejuruan yang handal, trampil untuk menghadapi tantangan masa depan.
7. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa        
            Orang dewasa mengalami efek cepatnya perubahan dalam bidang ketrampilan yang mereka miliki, maka diupayakan sistem pendidikan yang mampu mendidik orang dewasa. Secara radikal perubahan pandangan mengenai kapan seseorang harus disekolahkan dan sekolah apa yang dalam hal ini memerlukan politik pendidikan seumur hidup. 
8. Kebutuhan anak-anak awal
            Masa anak-anak awal merupakan fase perkembangan yang mempunyai karakteristik tersendiribukan semata-mata masa penantian untuk memasuk
i periode anak-anak, remaja dan dewasa. Masa anak-anak awal merupakan basis untuk perkembangan kejiwaan selanjutnya meskipun dalam tingkat tertentu pengalaman-pengalaman yang datang belakangan dapat memodifikasi perkembangan yang pondasinya sudah diletakkan oleh pengalaman sebelumnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan merupakan hak hidup bagi semua orang pada setiap tahap umur (anak-anak, remaja, dan dewasa), yang dapat diperoleh baik dalam keluarga, lingkungan, maupun disekolah. Semenjak dalam kandungan, seorang anak sudah mendapat ajaran dan pendidikan dasar dari keluarganya, terutama dari seorang ibu. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam kehidupan keluarga, sekolah dan masyarakat. Kewajiban belajar itu tidak dibatasi oleh umur, oleh karena itu hidup berumah tangga tidak menghalangi keharusan menuntut ilmu, atau nikah dan belajar dapat sejalan, tidak harus dipertentangkan. Prinsip pendidikan dalam Islam adalah pendidikan seumur hidup, long life education:
أطلب العلـم من المـهد إلى اللـهد
“Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat”.
B. Saran
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya, maka seorang siswa lebih termotivasi untuk belajar agar mampu membawa bangsa bersaing secara sehat dalam segala bidang dan mampu bersaing di dunia internasional.

DAFTAR PUSTAKA

AK, Baihaqi. 2001. Mendidik Anak Dalam Kandungan Menurut Ajaran Pedagosis Islam. Darul Ulum Press, Jakarta
http://indomaterikuliah.blogspot.co.id/2015/03/makalah-pendidikan-seumur-hidup.pip.html
Ihsan, Fuad. 2003. Dasar-Dasar Pendidikan.PT. Rineka Cipta, Jakarta
Suhartono, Suparlan. 2009. Filsafat Pendidikan. Ar-Ruzz Media, Jogjakarta
Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Uhbiyati, Nur. 2009. Long Life Education Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan Sampai Lansia. Walisongo Press, Semarang


[1] Suparlan Suhartono. Filsafat Pendidikan. 2009 (Ar-Ruzz Media : Jogjakarta), hal.79-80
[2] Fuad Ihsan. Dasar-Dasar Kependidikan. 2003 (PT. Rineka Cipta : Jakarta), hal.40
[3] Baihaqi AK. Mendidik Anak Dalam Kandungan Menurut Ajaran Pedagosis Islam. 2001 (Darul Ulum Press : Jakarta), hal.30 ,,
[4] Hj. Nur Uhbiyati. Long Life Education Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan Sampai Lansia. 2009 (Walisongo Press : Semarang), hal.36
[5] Hj. Nur Uhbiyati. Long Life Education Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan Sampai Lansia. 2009 (Walisongo Press : Semarang), hal.59-60
[6] Ibid. Hj. Nur . . . . hal. 93
[7] Sumadi Suryabrata. Psikologi Pendidikan. 2004. (Raja Grafindo Persada : Jakarta), hal.216
[8] Hj. Nur Uhbiyati. Long Life Education Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan Sampai Lansia. 2009 (Walisongo Press : Semarang), hal.119
[9] Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur’an. Al Qur’an dan Terjemahannya. 1997 (Departemen Agama Republik Indonesia  : Jakarta), hal.951
[10] Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur’an. Al Qur’an dan Terjemahannya. 1997 (Departemen Agama Republik Indonesia  : Jakarta), hal.875
[11] Ibid. Yayasan . . . . hal.1079
[12] Hj. Nur Uhbiyati. Long Life Education Pendidikan Anak Sejak Dalam Kandungan Sampai Lansia. 2009 (Walisongo Press : Semarang), hal.127-128
[13] Ibid. Hj. Nur . . . . hal.187

Tidak ada komentar:

Posting Komentar