Hari
kedua gelaran Pesta Adat Pelas Tanah 3 dan Pesona Kutai Timur 2018 diramaikan dengan
berbagai gelaran lomba olahraga tradisional, yakni asen naga atau hadang (gobak sodor), belogo, sumpit, bahempas bantal dan gasing, yang digelar di area
Taman Bersemi Sangatta, Selasa, 23 Oktober 2018. Gelaran
lomba olahraga tradisional yang diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai
daerah di Kaltim itu, selain melibatkan masyarakat umum, juga melibatkan
kalangan pelajar. Peserta lomba yang ikut acara ini
bukan hanya datang dari kutim saja tapi dari berbagai daerah di Kalimantan
timur, mulai dari bontang, samarinda, tenggarong hingga kutai barat. Dengan
penuh sportifitas semua bersaing untuk menjadi yang terbaik pada setiap lomba. Keterlibatan
pelajar dalam perlombaan ini bertujuan untuk mengenalkan permainan tradisional
tersebut ke generasi muda di Kutim. Sehingga, kedepannya permainan tradisional
ini bisa terus lestari karena ada regenerasinya.
Sebelumnya,
Pesta Adat Pelas Tanah 3 dan Pesona Kutai timur 2018 secara simbolis dibuka
oleh Bupati Kutai Timur yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan
Rupiansyah bersama Kepala Lembaga Adat Besar Kutai Kabupaten Kutai Timur.
Berbagai
olahraga tradisional yang diperlombakan adalah:
1.
Asen
Naga atau Hadang
Permainan Asen
Naga adalah sejenis permainan daerah dari komunitas etnis Kutai permainan ini
dimainkan secara kelompok terdiri dari 3 sampai 5 orang dalam satu kelompok. Di
daerah lain, Asen Naga disebut juga seperti Gobak Sodor, Galah Asin, Slodor
dll. Inti dari permainan ini menghadang lawan agar tidak bisa melewati garis ke
garis berikutnya sampai garis yang terakhir dilakukan dengan secara bolak
balik, untuk meraih kemenangan anggota kelompok harus secara lengkap melakukan
permainan ini dengan bolak balik melalui garis tersebut dan tidak mengenai atau
tersentuh oleh lawan, kalau saat permainan lengkap satu kelompok dapat
melakukan ini maka akan mendapatkan poin 1.
Apabila didalam
permainan ini ada yang tersentuh oleh lawan yang jaga maka permainan akan
dilakukan sebaliknya yaitu yang jaga menjadi dijaga, lama permainan ini
biasanya dilakukan selama 1 jam, apabila waktu telah habis maka poin dari kedua
kelompok akan dihitung. Yang paling banyak poinnya maka kelompok tersebut yang
memenangkan pertandingan tersebut permainan ini biasanya dimainkan dilapangan
berukuran 9X5 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian
biasanya diberi tanda kapur.
Anggota kelompok yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan terbagi menjadi 2
yaitu yang menjaga garis batas horizontal dan garis batas vertikal. Semua orang
yang menjaga harus berusaha menyentuh lawan yang melalui agar dapat juga
bermain sebaliknya agar lawan menjaga seperti yang telah mereka lakukan tadi, untuk
menjaga garis vertikal umumnya 1 orang dan mempunyai akses menjaga keseluruhan
garis tersebut sedangkan garis horizantal biasanya dijaga 1 orang per garis,
kalau garis ada 3 maka ada 3 yang menjaga garis tersebut.permainan ini sangat
mengasyikan dan sekaligus kita berolahraga karena kita harus berjaga dan
berlari sangat cepat.
2.
Belogo
Perangkat utama
dari permainan ini adalah kepingan berbentuk segi lima yang disebut logo.
Kepingan logo terbuat dari batok kelapa yang diamplas di kedua sisinya. Logo
ini dimainkan dengan cara dicungkil menggunakan sebuah tongkat yang disebut campak.
Belogo dimainkan secara beregu, dengan setiap regu terdiri dari tiga
orang. Setiap regu harus menjatuhkan tiga buah target, yaitu kepingan logo
yang diletakkan secara vertikal di tiga titik berderetan dari titik awal. Jarak
antar target adalah 8 meter dengan lebar lintasan kurang lebih 3 meter.
Karenanya, arena permainan belogo minimal membutuhkan ruang seluas 30x3 meter.
Setiap orang
dalam regu bertugas menjatuhkan sebuah target yang berbeda antara satu dengan
yang lain. Setiap orang memiliki dua kali kesempatan untuk mencungkil logo
yang digunakannya, sehingga setiap tim hanya memiliki enam kali kesempatan
untuk menjatuhkan seluruh sasaran. Jika target yang menjadi tugasnya telah
berhasil dijatuhkan pada pukulan pertama, seorang pemain dapat menggunakan
pukulan keduanya untuk menjatuhkan sasaran yang menjadi tugas dari rekan satu
tim. Dalam kompetisi antarregu, masing-masing tim bermain secara bergantian
dengan sistem akumulasi skor. Tiga target, yaitu depan, tengah, dan belakang,
memiliki skor yang berbeda. Sasaran dengan posisi terjauh memiliki skor paling
besar. Jika target bisa dijatuhkan pada cungkilan pertama maka disebut “agung”
dan mendapatkan bonus skor tambahan.
3.
Sumpit
Olahraga sumpit berasal dari salah satu senjata
tradisional Suku Dayak yang bermukim di pedalaman Kalimantan yang dipergunakan
untuk berburu binatang dan sebagai alat pertahanan diri yang tentunya
diperlukan keahlian khusus dalam menggunakannya. Oleh karena itu, sungguh
memprihatinkan apabila masyarakat kalimantan khususnya masyarakat Kalimantan
Timur tidak mengenal senjata tersebut, dimana pada saat ini telah dimulai ditinggalkan
dan tidak dikenal lagi sehingga memerlukan kelestariannya, salah satu bentuk
upaya tersebut adalah dengan diadakannya lomba sumpit dalam Festival Adat Pelas
Tanah.
Peralatan seperti sumpit dan anak sumpit dibuat dari
bahan yang biasa digunakan secara tradisional oleh masyarakat Dayak antara lain
kayu ulin yang selanjutnya digunakan dalam lomba-lomba dengan ketentuan antara
lain :
a.
Panjang laras sumpit antara 160 -
225 cm dengan ujung sumpit di beri tombak.
b.
Panjang anak sumpit adalah 25 cm
dengan diameter 0,3 cm yang terbuat dari ulindan diberi gabus pada ujungnya.
4.
Bahempas
bantal
Behempas bantal
merupakan salah satu jenis olahraga tradisional Kutai yang masih eksis hingga
sekarang. Olahraga ini diminati berbagai kalangan, baik pria maupun wanita. Tak
hanya kalangan remaja dari usia sekolah, bahkan kaum ibu di Kutai pun menyukai
ajang adu ketangkasan ini. Mereka mendadak berubah menjadi petarung tangguh di
atas sebatang kayu yang menjadi arena pertarungan.
Secara harfiah,
“behempas bantal” dapat diartikan sebagai memukul lawan hingga jatuh dengan
menggunakan bantal. Sesuai namanya, senjata utama yang digunakan para petarung
dadakan ini adalah bantal panjang seberat kurang lebih 1-2 kilogram. Olahraga
ini dimainkan satu lawan satu. Setiap pemain menggunakan salah satu tangan
untuk memegang bantal. Satu tangan yang lainnya tidak boleh digunakan dan harus
diletakkan di bagian belakang tubuh.
Dalam setiap
pertandingan, pemain dari dua kubu akan saling bertemu di atas sebatang kayu
dengan posisi duduk berhadapan. Kayu yang digunakan kurang lebih memiliki
panjang sekitar 3 meter. Kayu tersebut melintang setinggi kurang lebih 120
centimeter di atas area permainan. Di bagian bawah batang kayu tersebut,
terdapat lumpur yang licin sehingga peserta yang jatuh ke dalamnya akan
berlumuran lumpur.
Behempas bantal
dimainkan dalam dua babak. Pemenang dari setiap babak ditentukan oleh kemampuan
menjatuhkan lawannya dari atas batang kayu. Jika dalam dua babak diperoleh
hasil imbang, akan dimainkan babak tambahan. Jika saat babak tambahan hasilnya
masih imbang atau tidak ada salah satu di antara pemain yang tumbang, pemenang
ditentukan dengan pengundian menggunakan koin.
Permainan ini
membutuhkan kelihaian para pemain dalam mengatur strategi. Untuk memenangkan
setiap babak, tidak saja dibutuhkan kekuatan dalam memukul, tetapi kemampuan
menjaga stamina selama babak berlangsung. Biasanya, seiring berjalannya waktu,
kekuatan pemain untuk memukul semakin berkurang dan kemampuan untuk tetap
bertahan di atas batang pun semakin melemah. Karena itulah, kunci utama dalam
memenangkan permainan ini adalah menyeimbangkan antara tenaga yang digunakan
untuk memukul dengan tenaga yang digunakan untuk bertahan.
5.
Gasing
Lomba olahraga tradisional begasing menjadi salah satu
kegiatan yang dinantikan peserta dalam perhelatan Pesta Adat Pelas Tanah di
Taman Bersemi. Sontak riuhnya peserta bermain menyedot animo warga menonton. Berbicara
tentang gasing, menurut kordinator panitia lomba gasing di pelas tanah, sebagai
salah satu permainan yang berdurasi 10 menit ini dikuti oleh 4 pemain mengikuti
kesepakatan panitia lokal. Para pemain akan mengosok ujung gasing,
kemudian setelah selesai para pemain akan melemparkan gasing. Pemenang yang
gasingnya paling lama berputar kemudian diadu lagi. Pemain terlama Inilah yang
dapat julukan raja. Keseruan begasingan ini menjadi pemandangan yang seharusnya
dapat dilihat oleh para generasi penerus bangsa kini, sehingga perlunya rasa
peduli akan olahraga tradisional sebagai identitas suatu daerah.
Olahraga tradisional bisa mempererat
hubungan silaturahmi dan mampu menimbulkan rasa persatuan dan kesatuan di
antara peserta. Ini momen yang sangat penting dan bersifat strategis karena
dapat menimbulkan rasa kecintaan kepada tanah air dan sejarah leluhur, sehingga
di era globalisasi dunia saat ini identitas sebagai anak bangsa semakin
menampakkan jati dirinya.
"Dunia
boleh semakin modern, tetapi nilai budaya dan tradisi tetap menjadi sumber
semangat dalam membangun negeri dan daerah"
Perlombaan
olahraga tradisional dilaksanakan dari pagi hingga sore. Sore harinya di
panggung utama diisi dengan kegiatan lomba tari pesisir dan tari pedalaman
untuk tingkat pelajar, para peserta bersaing untuk menjadi yang terbaik dalam
lomba itu. Pada malam harinya ritual adat belian kembali dilaksanakan, kali ini
acara tersebut tidak hanya dibawakan oleh masyarakat Kutai saja melainkan juga
dibawakan oleh masyarakat dari suku Dayak Basap. Suasana mistis kian terasa
menyelimuti lokasi acara, konon pada zaman dahulu kegiatan ini sering digunakan
sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan arwah leluhur. Selain itu
ritual ini sering digunakan sebagai sarana pengobatan bagi masyarakat yang
sakit.
Di
hari berikutnya acara final lomba olahraga tradisional dan pada sore harinya
acara fashion show bagi kategori anak dan dewasa dipertandingkan. Dengan berbalut
busana dari berbagai daerah di Indonesia semua peserta berlenggak-lenggok
memperagakan gayanya di depan para dewan juri dengan maksud mencuri
perhatiannya untuk menjadi yang terbaik. Usai fashion show acara dilanjutkan
dengan senam zumba, masyarakat yang hadir di lokasi turut mengikuti setiap
gerakan yang diarahkan oleh pemandu. Masih di hari yang sama pada malam harinya
acara diisi dengan pengajian dan doa bersama untuk kemajuan dan keselamatan
kutai timur. Selain suguhan dengan berbagai acara hiburan, perlombaan hingga
ritual adat yang terpusat di satu titik, expo pelas tanah 3 merupakan suguhan
lainnya dari pesta adat pelas tanah 3 ini. Berbagai dagangan pun dijajakan
mulai dari kuliner, aksesoris, pakaian, dan lainnya kian memanjakan setiap
pengunjung yang datang ke lokasi.
Seperti
kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang” kalau kita tidak mengenal adat dan
budaya yang dimiliki Kutai timur
bagaimana kita bisa menjaga merawat bahkan menyayangi adat istiadat tersebut.
Oleh karena itu, lewat pesta adat Pelas Tanah ini, Lembaga Adat Besar Kutai Kabupaten
Kuutai Timur memperkenalkan kebudayaan serta adat istiadat kepada masyarakat
luas.
Malam
harinya di Taman Bersemi STQ acara dimeriahkan dengan penampilan dari berbagai
paguyuban yang berada dibawah naungan Lembaga Adat Besar Kutai Timur. Lomba
bemamai atau lomba marah-marah dengan menggunakan bahasa Kutai menambah suasana
menjadi riuh karena suara tawa dari masyarakat yang hadir menyaksikan acara
tersebut.
Bupati
Kutai Timur menutup perhelatan Pesta Adat Pelas Tanah III, pada hari Sabtu, 27
Oktober 2018 malam. Malam penutupan itu diawali dengan penyerahan hadiah
berbagai kategori lomba. Mulai lomba olahraga tradisional, fashion
show hingga pentas seni. Selain jajaran Pemerintah Kabupaten
Kutim dan Adat Besar Kutai Kutim, puncak penutupan acara juga dihadiri Putra
Mahkota Kutai Kartanegara Sultan Haji Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat beserta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara serta tokoh-tokoh adat dari
berbagai etnis.
(Imroah)
~bersambung~