Senin, 28 Januari 2019

Kirab Budaya dan Penutupan Festival Pelas Tanah 2018



Setelah seluruh rangkaian upacara adat & perlombaan tradisional diselenggarakan. Pada hari Minggu, 28 Oktober 2018, acara Pawai Budaya digelar. Ratusan masyarakat Kutai Timur dari masing-masing paguyuban terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan ini dengan menggunakan busana daerahnya. Mereka menggunakan pakaian adat dari seluruh nusantara seperti Kutai, Dayak, Tana Toraja, Bugis dan suku lainnya. Kirab budaya digelar sebagai penyemarak dan tanda akan berakhirnya festival adat pelas tanah. Kehadiran kirab budaya juga diharapkan bisa menjaga kerukunan antar umat beragama dan etnis di kutai timur. Pawai akan berakhir di depan panggung utama, disini para peserta akan kembali beraksi dengan berbagai kesenian disaksikan oleh Bupati, Kepala Adat Besar Kutai Timur serta Putra Mahkota Kesultanan Kutai Ing Martadipura.
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah dari suku Toraja. Mereka menampilkan Tari Pa’ Gellu.  Tarian ini diiringi musik tradisional genderang khas Toraja. Penarinya sampai naik ke atas genderang. Awalnya Tari Pa’ Gellu adalah tarian penyambutan para pahlawan yang pulang dari medan perang.  Seiring berjalannya waktu Tari Pa’ Gellu digunakan sebagai hiburan untuk menyambut tamu penting, pernikahan dan pesta rakyat. 
Tarian Pa' Gellu

Sedangkan dari bumi untung benua Kutai Timur ada seni panen raya, gerakan dan musiknya terdengar ceria dan enerjik. Maklum deh tarian panen raya menggambarkan kegembiraan saat bertani hingga masa panen tiba.
Seni Panen Raya
Setelah “Parade Budaya”, “Penurunan Tiang Ayu” dilakukan yang dilanjutkan dengan “Makan Bebaki”. Ratusan warga akan berkumpul di lapangan bersemi kota Sangatta Kabupaten Kutai Timur mereka sedang menunggu pembagian makan yang disediakan panitia. Tradisi bebaki menjadi simbol kebersamaan, kesetaraan, serta kerukunan adat kutai timur. Jadi seluruh warga bersama para pemimpinnya akan menyantap hidangan yang telah tersedia.
Tradisi Makan Bebaki
Kalau sudah kenyang kita lanjutkan dengan “Tradisi Belimbur”. Belimbur adalah tradisi saling siram air kepada masyarakat. Tradisi belimbur sebagai wujud rasa syukur atas lancarnya acara adat  pelas tanah. Selain itu tradisi belimbur juga bermakna sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk. Media air yang digunakan dipercaya bisa melunturkan sifat buruk manusia. Hal ini menandakan seluruh kegiatan “Pesta Adat Pelas Tanah” tahun ini telah berakhir. Acara belimbur dimulai setelah Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat mencipratkan air seusai penurunan tiang ayu atau rondong ayu, kemudian semua orang saling menyiramkan air yang telah disediakan panitia hal ini menggambarkan suka cita serta kegembiraan. Tidak ada dendam dan saling menyakiti. Semua dilakukan dengan tulus ikhlas hal ini merupakan  simbol pemersatu dan melepas segala beban hidup untuk kembali menjadi jiwa yang bersih
Tradisi Adat Belimbur
Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara memulai adat belimbur
Dari waktu ke waktu pagelaran pesta adat pelas tanah semakin besar dan diminati masyarakat. Perjuangan Lembaga Adat Kutim untuk menjadikan pesta adat pelas tanah sebagai ikon pariwisata Kutai Timur kian terwujud. Semoga di tahun depan dan selanjutnya Pesta Adat Pelas Tanah bisa terus dilaksanakan dan dikembangkan.

Galeri keseruan Kirab Budaya Pelas Tanah 2018:
 




 



















(Imroah)
~sekian~



Tidak ada komentar:

Posting Komentar