Senin, 28 Januari 2019

Ritual Pesta Adat Pelas Tanah Kutai Timur 2018

Kabupaten Kutai Timur adalah wilayah baru hasil pemekaran dari Kutai Kartanegara di tahun 1999 lalu, meski kini sudah menjadi daerah mandiri adat istiadat warisan Kesultanan Kutai Ing Martadipura tetap terjaga. Buktinya bisa dilihat dari Pesta Adat Pelas Tanah yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya di Sangatta Kutai Timur.
Pesta Adat Pelas Tanah adalah pesta pembersihan kampung atau suatu wilayah yang mengandung makna bahwa daerah tersebut tidak saja bersih dari unsur-unsur jahat tetapi juga kebersihan bagi setiap jiwa yang menghuninya baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Upacara adat ini merupakan sebuah tradisi yang telah sejak lama dilaksanakan oleh masyarakat yang mendiami wilayah Kutai Timur.
Dalam upaya memelihara, mengembangkan, melestarikan dan menggali adat istiadat seni dan budaya Kabupaten Kutai Timur yang bertujuan agar terpeliharanya adat istiadat dan seni budaya dan semakin dicintainya budaya bangsa oleh masyarakat Indonesia sendiri serta tersedianya obyek wisata budaya yang menarik, maka Pesta Adat Pelas Tanah telah berkembang menjadi sebuah perhelatan besar tahunan di Kabupaten Kutai Timur.
Pesta Adat Pelas Tanah merupakan adat dan budaya yang secara turun menurun rutin dilakukan setiap tahunnya oleh masyarakat Kutai Timur. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas rahmat yang telah diberikan. Melalui gelaran Pesta Adat Pelas Tanah, Lembaga Adat Besar Kutai Kabupaten Kutai Timur sebagai penyelenggara dan penanggung jawab kegiatan ingin memperkenalkan nilai-nilai adat dan budaya para leluhur kepada generasi muda agar seluruh adat dan kebudayaan Kutai Timur dapat dilestarikan dan berkembang. Selain itu, Lembaga Adat Besar Kutai Timur juga berupaya memperkenalkan adat dan budaya Kutai Timur kepada seluruh masyarakat Indonesia dan bahkan dunia. Pagelaran pesta adat yang dimulai dari tanggal 21 hingga 28 oktober 2018 ini merupakan pagelaran pesta adat yang ketiga dan menjadi salah satu event yang ditunggu oleh masyarakat Kutai Timur.
Acaranya rame banget. Warga setempat beserta tokoh adat dan pemerintahan berkumpul bersama, semuanya bersuka cita memeriahkan acara. Ragam seni budaya khas Kutai timur turut ditampilkan. Untuk membuka acara ditampilkan Tari Jepeh Odah, tarian rakyat pesisir yang berkisah tentang kemakmuran dan keindahan alam tanah Kutai. Sehari sebelum tradisi Pelas Tanah dimulai, yaitu pada hari Minggu, 21 Oktober 2018 berbagai persiapan dilakukan termasuk menggelar “Ritual Adat Bepelas” atau “Menjamu Benua”. Bepelas bertujuan untuk melindungi masyarakat dari gangguan hal-hal yang bersifat ghaib dan juga demi lancarnya acara. Seekor sapi akan dipotong, bagian kepalanya akan dikuburkan di tempat Pelas Tanah diselenggarakan, sementara bagian organ dalamnya ditanam di berbagai lokasi lain. Selanjutnya para tetua adat yang tergabung dalam Lembaga Adat Besar Kutai Timur berangkat menuju 4 titik di kota Sangatta yang dianggap menjadi simbol alam, yaitu tanah, air, api, dan udara. Setiap titik dibacakan doa-doa, beras kuning juga ditaburkan begitupun dengan air yang telah disucikan dipercik-percikkan di tempat ritual. Air suci lalu diberikan kepada peserta yang hadir agar selamat sentosa semuanya. Pada malam harinya diadakan ritual sakral yang dinamakan “Mengantar Dahar”. Mengantar dahar khusus untuk orang-orang yang dihormati yaitu Bupati, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan para pemangku adat. Ritual mengantar dahar menjadi simbol akan diselenggarakannya Pesta Adat Pelas Tanah. Uniknya aneka hidangan yang dihantarkan jenisnya cukup banyak ada sekitar 41 jenis makanan semuanya makanan khas dari Kutai Timur. Jika seluruh hantaran telah tersaji, para tamu kehormatan dipersilahkan untuk menikmati. Aneka makanan yang disajikan adalah wujud ungkapan rasa syukur dan terima kasih warga.
Esok paginya di hari Senin, 22 Oktober 2018 acara dilanjut dengan “Ritual Adat Beluluh” yang dipimpin oleh Dewa Belian. Beluluh bertujuan agar kegiatan yang diselenggarakan berjalan lancar. Kepala pemerintahan daerah dan tetua adat wajib hadir mengikuti ritual beluluh untuk mensucikan diri dan mencegah marabahaya. Beluluh berasal dari kata buluh yang bermakna bambu dan luluh yang artinya musnah. Dalam ritual beluluh, Bupati beserta istri akan duduk bersama di atas singgasana dari bambu. Pemimpin ritual kemudian membaca mantra-mantra keselamatan. Air tepung tawar kemudian diusapkan ke seluruh bagian tubuh Bupati. Setiap bagian tubuh yang diusapkan air memiliki makna. Bagian tangan bermakna pensucian diri seorang pemimpin dalam mengendalikan kekuasaan, bahu sebagai simbol kebersihan dalam mengemban amanat. Sementara kaki menjadi simbol penopang setiap langkah pemimpin, semuanya demi kepentingan rakyat. Air kembang yang telah didoakan digunakan untuk membasuh wajah Bupati dilanjut dengan mengusap kepingan uang logam pada bagian mata, makna simbolisnya agar terwujud kesejahteraan bagi pemimpin dan rakyatnya. Ritual beluluh kemudian ditutup dengan prosesi “Ketikai Lepas”, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Bupati akan menarik anyaman janur kuning daun kelapa secara bersamaan. Ketikai lepas sebagai simbol terlepasnya pengaruh negatif dan simbol kemenangan setelah mensucikan diri.
Dalam Ritual Adat Beluluh juga ada kegiatan melukis gambar dengan beras warna-warni. Lukisan beras menjadi bagian terpenting dalam prosesi adat sakral Pelas Tanah Kutai. Lukisan dari beras disebut “Tambak Karang”, beras dicampur dengan tujuh warna yang mewakili keindahan serta pancaran hidup manusia. Tidak sembarangan orang bisa membuat tambak karang. Hanya orang-orang tertentu saja dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Kabarnya keterampilan membuat lukisan tambak karang diwariskan secara turun temurun sejak lama. Ada delapan motif tambak karang yang biasa dibuat kesultanan yaitu motif Lembuswana, Karang Genta, Karang Dungkul, Karang Indra Geni, Karang Terati, Karang Daulan serta Karang Paoh. Simbol gambar yang disusun terdiri dari taman, jembatan, pelangi, kolam dan dua ekor ikan. Jangan lupa empat ekor naga di sudut lukisannya. Pada bagian moncong naga akan diletakkan dua buah pisang sebagai simbol tandu atau taring serta telur ayam kampung sebagai lambang kepala atau batu pusaka. Lukisan tambak karang digunakan untuk menjadi alas balai dari bambu kuning. Balai juga digunakan sebagai singgasana saat ritual adat beluluh, atau tempat kepala adat dan pemimpin daerah duduk bersama. Ketinggian tiang bambu pada singgasana sebagai tanda status seseorang, semakin tinggi dan banyak jumlah tiangnya maka semakin tinggi juga kedudukannya.
Lukisan Tambak Karang
digunakan sebagai alas singgasana yang diduduki Bupati dalam Ritual Adat Beluluh
Pelaksanaan Pelas Tanah memang cukup panjang, terdiri dari rangkaian upacara adat yang berlangsung berhari-hari. Untuk membuka Pelas Tanah harus diawali dengan “Ritual Mendirikan Tiang Ayu”. Tiang ayu yang didirikan sejatinya adalah tombak pusaka yang disebut “Sangkoh Piatu”. Sangkoh piatu adalah tombak pusaka milik Raja Kutai pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti, tombak dililit dengan kain kuning sebagai simbol kebesaran Kesultanan Kutai Ing Martadipura. Usai mendirikan tiang ayu, rombongan adat lalu menyalakan  “Brong atau obor”. Brong menjadi simbol berkobarnya semangat adat serta sumber kehidupan. Sedangkan api yang berkobar tetap menyala sampai ditutupnya Pesta Adat Pelas Tanah di hari ketujuh.
Pesta Adat Pelas Tanah berlangsung dari pagi sampai malam dan setiap malam akan diadakan "Ritual Adat Belian/Ngenjong". Alunan musik tradisional selalu saja terdengar kecuali di malam jum’at karena dilarang. Di bagian tengah tenda sebagai pusat kegiatan adat sengaja didirikan “Singgasana dan Benyawan”. 
Singgasana dan Benyawan yang dijadikan sebagai pusat kegiatan ritual adat belian/ngenjong

Dimana-mana nampak warna kuning keemasan yang begitu mendominasi, warna yang juga menjadi simbol keagungan para leluhur dan dewa-dewa. Singgasana dan Benyawan menjadi simbol kendaraan alam bawah sadar manusia untuk menuju dunia para dewa dan leluhur yang ada di darat, laut maupun di atas langit. Sambil mengitari singgasana dan benyawan seorang tetua adat melantunkan doa dan mantra-mantra. Ia lalu menunjuk pengunjung yang hadir untuk menari bersama-sama. Ketika menari bersama terkadang ada pengunjung yang hilang kesadarannya atau disebut “Ngenjong”. Ngenjong diyakini menjadi pertanda kehadiran para dewa atau leluhur untuk berkomunikasi. Konon hilangnya kesadaran di saat ngenjong bisa menjadi metode penyembuhan secara tradisional khususnya dari pengaruh buruk.
Jadwal Rangkaian Kegiatan Pesta Adat Pelas Tanah 2018

(Imroah)
~bersambung~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar