Kabupaten Kutai Timur adalah wilayah
baru hasil pemekaran dari Kutai Kartanegara di tahun 1999 lalu, meski kini
sudah menjadi daerah mandiri adat istiadat warisan Kesultanan Kutai Ing
Martadipura tetap terjaga. Buktinya bisa dilihat dari Pesta Adat Pelas Tanah
yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya di Sangatta Kutai Timur.
Pesta Adat Pelas Tanah adalah pesta
pembersihan kampung atau suatu wilayah yang mengandung makna bahwa daerah
tersebut tidak saja bersih dari unsur-unsur jahat tetapi juga kebersihan bagi
setiap jiwa yang menghuninya baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Upacara
adat ini merupakan sebuah tradisi yang telah sejak lama dilaksanakan oleh masyarakat
yang mendiami wilayah Kutai Timur.
Dalam upaya memelihara,
mengembangkan, melestarikan dan menggali adat istiadat seni dan budaya
Kabupaten Kutai Timur yang bertujuan agar terpeliharanya adat istiadat dan seni
budaya dan semakin dicintainya budaya bangsa oleh masyarakat Indonesia sendiri
serta tersedianya obyek wisata budaya yang menarik, maka Pesta Adat Pelas Tanah
telah berkembang menjadi sebuah perhelatan besar tahunan di Kabupaten Kutai Timur.
Pesta Adat Pelas Tanah merupakan
adat dan budaya yang secara turun menurun rutin dilakukan setiap tahunnya oleh
masyarakat Kutai Timur. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas
rahmat yang telah diberikan. Melalui gelaran Pesta Adat Pelas Tanah, Lembaga
Adat Besar Kutai Kabupaten Kutai Timur sebagai penyelenggara dan penanggung
jawab kegiatan ingin memperkenalkan nilai-nilai adat dan budaya para leluhur
kepada generasi muda agar seluruh adat dan kebudayaan Kutai Timur dapat
dilestarikan dan berkembang. Selain itu, Lembaga Adat Besar Kutai Timur juga
berupaya memperkenalkan adat dan budaya Kutai Timur kepada seluruh masyarakat
Indonesia dan bahkan dunia. Pagelaran pesta adat yang dimulai dari tanggal 21
hingga 28 oktober 2018 ini merupakan pagelaran pesta adat yang ketiga dan
menjadi salah satu event yang ditunggu oleh masyarakat Kutai Timur.
Acaranya
rame banget. Warga setempat beserta tokoh adat dan pemerintahan berkumpul
bersama, semuanya bersuka cita memeriahkan acara. Ragam seni budaya khas Kutai
timur turut ditampilkan. Untuk membuka acara ditampilkan Tari Jepeh Odah,
tarian rakyat pesisir yang berkisah tentang kemakmuran dan keindahan alam tanah
Kutai. Sehari sebelum tradisi Pelas Tanah dimulai, yaitu pada hari Minggu, 21
Oktober 2018 berbagai persiapan dilakukan termasuk menggelar “Ritual Adat Bepelas”
atau “Menjamu Benua”. Bepelas bertujuan untuk melindungi masyarakat dari
gangguan hal-hal yang bersifat ghaib dan juga demi lancarnya acara. Seekor sapi
akan dipotong, bagian kepalanya akan dikuburkan di tempat Pelas Tanah
diselenggarakan, sementara bagian organ dalamnya ditanam di berbagai lokasi
lain. Selanjutnya para tetua adat yang tergabung dalam Lembaga Adat Besar Kutai
Timur berangkat menuju 4 titik di kota Sangatta yang dianggap menjadi simbol
alam, yaitu tanah, air, api, dan udara. Setiap titik dibacakan doa-doa, beras
kuning juga ditaburkan begitupun dengan air yang telah disucikan
dipercik-percikkan di tempat ritual. Air suci lalu diberikan kepada peserta
yang hadir agar selamat sentosa semuanya. Pada malam harinya diadakan ritual
sakral yang dinamakan “Mengantar Dahar”. Mengantar dahar khusus untuk
orang-orang yang dihormati yaitu Bupati, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara
Ing Martadipura dan para pemangku adat. Ritual mengantar dahar menjadi simbol
akan diselenggarakannya Pesta Adat Pelas Tanah. Uniknya aneka hidangan yang
dihantarkan jenisnya cukup banyak ada sekitar 41 jenis makanan semuanya makanan
khas dari Kutai Timur. Jika seluruh hantaran telah tersaji, para tamu
kehormatan dipersilahkan untuk menikmati. Aneka makanan yang disajikan adalah
wujud ungkapan rasa syukur dan terima kasih warga.
Esok paginya
di hari Senin, 22 Oktober 2018 acara dilanjut dengan “Ritual Adat Beluluh” yang
dipimpin oleh Dewa Belian. Beluluh bertujuan agar kegiatan yang diselenggarakan
berjalan lancar. Kepala pemerintahan daerah dan tetua adat wajib hadir
mengikuti ritual beluluh untuk mensucikan diri dan mencegah marabahaya. Beluluh
berasal dari kata buluh yang bermakna bambu dan luluh yang artinya musnah.
Dalam ritual beluluh, Bupati beserta istri akan duduk bersama di atas
singgasana dari bambu. Pemimpin ritual kemudian membaca mantra-mantra
keselamatan. Air tepung tawar kemudian diusapkan ke seluruh bagian tubuh
Bupati. Setiap bagian tubuh yang diusapkan air memiliki makna. Bagian tangan
bermakna pensucian diri seorang pemimpin dalam mengendalikan kekuasaan, bahu
sebagai simbol kebersihan dalam mengemban amanat. Sementara kaki menjadi simbol
penopang setiap langkah pemimpin, semuanya demi kepentingan rakyat. Air kembang
yang telah didoakan digunakan untuk membasuh wajah Bupati dilanjut dengan
mengusap kepingan uang logam pada bagian mata, makna simbolisnya agar terwujud
kesejahteraan bagi pemimpin dan rakyatnya. Ritual beluluh kemudian ditutup
dengan prosesi “Ketikai Lepas”, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing
Martadipura dan Bupati akan menarik anyaman janur kuning daun kelapa secara
bersamaan. Ketikai lepas sebagai simbol terlepasnya pengaruh negatif dan simbol
kemenangan setelah mensucikan diri.
Dalam Ritual Adat Beluluh juga ada
kegiatan melukis gambar dengan beras warna-warni. Lukisan beras menjadi bagian
terpenting dalam prosesi adat sakral Pelas Tanah Kutai. Lukisan dari beras
disebut “Tambak Karang”, beras dicampur dengan tujuh warna yang mewakili
keindahan serta pancaran hidup manusia. Tidak sembarangan orang bisa membuat
tambak karang. Hanya orang-orang tertentu saja dari Keraton Kesultanan Kutai
Kartanegara Ing Martadipura. Kabarnya keterampilan membuat lukisan tambak
karang diwariskan secara turun temurun sejak lama. Ada delapan motif tambak
karang yang biasa dibuat kesultanan yaitu motif Lembuswana, Karang Genta,
Karang Dungkul, Karang Indra Geni, Karang Terati, Karang Daulan serta Karang
Paoh. Simbol gambar yang disusun terdiri dari taman, jembatan, pelangi, kolam
dan dua ekor ikan. Jangan lupa empat ekor naga di sudut lukisannya. Pada bagian
moncong naga akan diletakkan dua buah pisang sebagai simbol tandu atau taring
serta telur ayam kampung sebagai lambang kepala atau batu pusaka. Lukisan
tambak karang digunakan untuk menjadi alas balai dari bambu kuning. Balai juga
digunakan sebagai singgasana saat ritual adat beluluh, atau tempat kepala adat
dan pemimpin daerah duduk bersama. Ketinggian tiang bambu pada singgasana
sebagai tanda status seseorang, semakin tinggi dan banyak jumlah tiangnya maka
semakin tinggi juga kedudukannya.
![]() |
| Lukisan Tambak Karang |
Pelaksanaan
Pelas Tanah memang cukup panjang, terdiri dari rangkaian upacara adat yang
berlangsung berhari-hari. Untuk membuka Pelas Tanah harus diawali dengan
“Ritual Mendirikan Tiang Ayu”. Tiang ayu yang didirikan sejatinya adalah tombak
pusaka yang disebut “Sangkoh Piatu”. Sangkoh piatu adalah tombak pusaka milik
Raja Kutai pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti, tombak dililit dengan kain kuning
sebagai simbol kebesaran Kesultanan Kutai Ing Martadipura. Usai mendirikan
tiang ayu, rombongan adat lalu menyalakan
“Brong atau obor”. Brong menjadi simbol berkobarnya semangat adat serta
sumber kehidupan. Sedangkan api yang berkobar tetap menyala sampai ditutupnya Pesta
Adat Pelas Tanah di hari ketujuh.
Pesta Adat Pelas Tanah berlangsung
dari pagi sampai malam dan setiap malam akan diadakan "Ritual Adat Belian/Ngenjong". Alunan musik tradisional selalu saja terdengar kecuali
di malam jum’at karena dilarang. Di bagian tengah tenda sebagai pusat kegiatan
adat sengaja didirikan “Singgasana dan Benyawan”.
![]() |
| Singgasana dan Benyawan yang dijadikan sebagai pusat kegiatan ritual adat belian/ngenjong |
Dimana-mana nampak warna
kuning keemasan yang begitu mendominasi, warna yang juga menjadi simbol
keagungan para leluhur dan dewa-dewa. Singgasana dan Benyawan menjadi simbol
kendaraan alam bawah sadar manusia untuk menuju dunia para dewa dan leluhur
yang ada di darat, laut maupun di atas langit. Sambil mengitari singgasana dan
benyawan seorang tetua adat melantunkan doa dan mantra-mantra. Ia lalu menunjuk
pengunjung yang hadir untuk menari bersama-sama. Ketika menari bersama
terkadang ada pengunjung yang hilang kesadarannya atau disebut “Ngenjong”.
Ngenjong diyakini menjadi pertanda kehadiran para dewa atau leluhur untuk
berkomunikasi. Konon hilangnya kesadaran di saat ngenjong bisa menjadi metode
penyembuhan secara tradisional khususnya dari pengaruh buruk.
![]() |
| Jadwal Rangkaian Kegiatan Pesta Adat Pelas Tanah 2018 |
(Imroah)
~bersambung~




Tidak ada komentar:
Posting Komentar