Senin, 28 Januari 2019

Perlombaan Olahraga Tradisional dan Pentas Seni Pelas Tanah 2018



Hari kedua gelaran Pesta Adat Pelas Tanah 3 dan Pesona Kutai Timur 2018 diramaikan dengan berbagai gelaran lomba olahraga  tradisional, yakni asen naga atau hadang (gobak sodor), belogo, sumpit, bahempas bantal dan gasing, yang digelar di area Taman Bersemi Sangatta, Selasa, 23 Oktober 2018. Gelaran lomba olahraga tradisional yang diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai daerah di Kaltim itu, selain melibatkan masyarakat umum, juga melibatkan kalangan pelajar. Peserta lomba yang ikut acara ini bukan hanya datang dari kutim saja tapi dari berbagai daerah di Kalimantan timur, mulai dari bontang, samarinda, tenggarong hingga kutai barat. Dengan penuh sportifitas semua bersaing untuk menjadi yang terbaik pada setiap lomba. Keterlibatan pelajar dalam perlombaan ini bertujuan untuk mengenalkan permainan tradisional tersebut ke generasi muda di Kutim. Sehingga, kedepannya permainan tradisional ini bisa terus lestari karena ada regenerasinya.
Sebelumnya, Pesta Adat Pelas Tanah 3 dan Pesona Kutai timur 2018 secara simbolis dibuka oleh Bupati Kutai Timur yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Rupiansyah bersama Kepala Lembaga Adat Besar Kutai Kabupaten Kutai Timur.

Berbagai olahraga tradisional yang diperlombakan adalah:

1.    Asen Naga atau Hadang


Permainan Asen Naga adalah sejenis permainan daerah dari komunitas etnis Kutai permainan ini dimainkan secara kelompok terdiri dari 3 sampai 5 orang dalam satu kelompok. Di daerah lain, Asen Naga disebut juga seperti Gobak Sodor, Galah Asin, Slodor dll. Inti dari permainan ini menghadang lawan agar tidak bisa melewati garis ke garis berikutnya sampai garis yang terakhir dilakukan dengan secara bolak balik, untuk meraih kemenangan anggota kelompok harus secara lengkap melakukan permainan ini dengan bolak balik melalui garis tersebut dan tidak mengenai atau tersentuh oleh lawan, kalau saat permainan lengkap satu kelompok dapat melakukan ini maka akan mendapatkan poin 1.
Apabila didalam permainan ini ada yang tersentuh oleh lawan yang jaga maka permainan akan dilakukan sebaliknya yaitu yang jaga menjadi dijaga, lama permainan ini biasanya dilakukan selama 1 jam, apabila waktu telah habis maka poin dari kedua kelompok akan dihitung. Yang paling banyak poinnya maka kelompok tersebut yang memenangkan pertandingan tersebut permainan ini biasanya dimainkan dilapangan berukuran 9X5 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda kapur.
Anggota kelompok yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan terbagi menjadi 2 yaitu yang menjaga garis batas horizontal dan garis batas vertikal. Semua orang yang menjaga harus berusaha menyentuh lawan yang melalui agar dapat juga bermain sebaliknya agar lawan menjaga seperti yang telah mereka lakukan tadi, untuk menjaga garis vertikal umumnya 1 orang dan mempunyai akses menjaga keseluruhan garis tersebut sedangkan garis horizantal biasanya dijaga 1 orang per garis, kalau garis ada 3 maka ada 3 yang menjaga garis tersebut.permainan ini sangat mengasyikan dan sekaligus kita berolahraga karena kita harus berjaga dan berlari sangat cepat.


2.    Belogo


Perangkat utama dari permainan ini adalah kepingan berbentuk segi lima yang disebut logo. Kepingan logo terbuat dari batok kelapa yang diamplas di kedua sisinya. Logo ini dimainkan dengan cara dicungkil menggunakan sebuah tongkat yang disebut campak.
Belogo dimainkan secara beregu, dengan setiap regu terdiri dari tiga orang. Setiap regu harus menjatuhkan tiga buah target, yaitu kepingan logo yang diletakkan secara vertikal di tiga titik berderetan dari titik awal. Jarak antar target adalah 8 meter dengan lebar lintasan kurang lebih 3 meter. Karenanya, arena permainan belogo minimal membutuhkan ruang seluas 30x3 meter.
Setiap orang dalam regu bertugas menjatuhkan sebuah target yang berbeda antara satu dengan yang lain. Setiap orang memiliki dua kali kesempatan untuk mencungkil logo yang digunakannya, sehingga setiap tim hanya memiliki enam kali kesempatan untuk menjatuhkan seluruh sasaran. Jika target yang menjadi tugasnya telah berhasil dijatuhkan pada pukulan pertama, seorang pemain dapat menggunakan pukulan keduanya untuk menjatuhkan sasaran yang menjadi tugas dari rekan satu tim. Dalam kompetisi antarregu, masing-masing tim bermain secara bergantian dengan sistem akumulasi skor. Tiga target, yaitu depan, tengah, dan belakang, memiliki skor yang berbeda. Sasaran dengan posisi terjauh memiliki skor paling besar. Jika target bisa dijatuhkan pada cungkilan pertama maka disebut “agung” dan mendapatkan bonus skor tambahan. 

3.    Sumpit


Olahraga sumpit berasal dari salah satu senjata tradisional Suku Dayak yang bermukim di pedalaman Kalimantan yang dipergunakan untuk berburu binatang dan sebagai alat pertahanan diri yang tentunya diperlukan keahlian khusus dalam menggunakannya. Oleh karena itu, sungguh memprihatinkan apabila masyarakat kalimantan khususnya masyarakat Kalimantan Timur tidak mengenal senjata tersebut, dimana pada saat ini telah dimulai ditinggalkan dan tidak dikenal lagi sehingga memerlukan kelestariannya, salah satu bentuk upaya tersebut adalah dengan diadakannya lomba sumpit dalam Festival Adat Pelas Tanah.
Peralatan seperti sumpit dan anak sumpit dibuat dari bahan yang biasa digunakan secara tradisional oleh masyarakat Dayak antara lain kayu ulin yang selanjutnya digunakan dalam lomba-lomba dengan ketentuan antara lain :
a.    Panjang laras sumpit antara 160 - 225 cm dengan ujung sumpit di beri tombak.
b.    Panjang anak sumpit adalah 25 cm dengan diameter 0,3 cm yang terbuat dari ulindan diberi gabus pada ujungnya.

4.    Bahempas bantal


Behempas bantal merupakan salah satu jenis olahraga tradisional Kutai yang masih eksis hingga sekarang. Olahraga ini diminati berbagai kalangan, baik pria maupun wanita. Tak hanya kalangan remaja dari usia sekolah, bahkan kaum ibu di Kutai pun menyukai ajang adu ketangkasan ini. Mereka mendadak berubah menjadi petarung tangguh di atas sebatang kayu yang menjadi arena pertarungan.
Secara harfiah, “behempas bantal” dapat diartikan sebagai memukul lawan hingga jatuh dengan menggunakan bantal. Sesuai namanya, senjata utama yang digunakan para petarung dadakan ini adalah bantal panjang seberat kurang lebih 1-2 kilogram. Olahraga ini dimainkan satu lawan satu. Setiap pemain menggunakan salah satu tangan untuk memegang bantal. Satu tangan yang lainnya tidak boleh digunakan dan harus diletakkan di bagian belakang tubuh.
Dalam setiap pertandingan, pemain dari dua kubu akan saling bertemu di atas sebatang kayu dengan posisi duduk berhadapan. Kayu yang digunakan kurang lebih memiliki panjang sekitar 3 meter. Kayu tersebut melintang setinggi kurang lebih 120 centimeter di atas area permainan. Di bagian bawah batang kayu tersebut, terdapat lumpur yang licin sehingga peserta yang jatuh ke dalamnya akan berlumuran lumpur.
Behempas bantal dimainkan dalam dua babak. Pemenang dari setiap babak ditentukan oleh kemampuan menjatuhkan lawannya dari atas batang kayu. Jika dalam dua babak diperoleh hasil imbang, akan dimainkan babak tambahan. Jika saat babak tambahan hasilnya masih imbang atau tidak ada salah satu di antara pemain yang tumbang, pemenang ditentukan dengan pengundian menggunakan koin.
Permainan ini membutuhkan kelihaian para pemain dalam mengatur strategi. Untuk memenangkan setiap babak, tidak saja dibutuhkan kekuatan dalam memukul, tetapi kemampuan menjaga stamina selama babak berlangsung. Biasanya, seiring berjalannya waktu, kekuatan pemain untuk memukul semakin berkurang dan kemampuan untuk tetap bertahan di atas batang pun semakin melemah. Karena itulah, kunci utama dalam memenangkan permainan ini adalah menyeimbangkan antara tenaga yang digunakan untuk memukul dengan tenaga yang digunakan untuk bertahan. 

5.    Gasing


Lomba olahraga tradisional begasing menjadi salah satu kegiatan yang dinantikan peserta dalam perhelatan Pesta Adat Pelas Tanah di Taman Bersemi. Sontak riuhnya peserta bermain menyedot animo warga menonton. Berbicara tentang gasing, menurut kordinator panitia lomba gasing di pelas tanah, sebagai salah satu permainan yang berdurasi 10 menit ini dikuti oleh 4 pemain mengikuti kesepakatan panitia lokal. Para pemain akan mengosok ujung gasing, kemudian setelah selesai para pemain akan melemparkan gasing. Pemenang yang gasingnya paling lama berputar kemudian diadu lagi. Pemain terlama Inilah yang dapat julukan raja. Keseruan begasingan ini menjadi pemandangan yang seharusnya dapat dilihat oleh para generasi penerus bangsa kini, sehingga perlunya rasa peduli akan olahraga tradisional sebagai identitas suatu daerah. 

Olahraga tradisional bisa mempererat hubungan silaturahmi dan mampu menimbulkan rasa persatuan dan kesatuan di antara peserta. Ini momen yang sangat penting dan bersifat strategis karena dapat menimbulkan rasa kecintaan kepada tanah air dan sejarah leluhur, sehingga di era globalisasi dunia saat ini identitas sebagai anak bangsa semakin menampakkan jati dirinya. 

"Dunia boleh semakin modern, tetapi nilai budaya dan tradisi tetap menjadi sumber semangat dalam membangun negeri dan daerah"

Perlombaan olahraga tradisional dilaksanakan dari pagi hingga sore. Sore harinya di panggung utama diisi dengan kegiatan lomba tari pesisir dan tari pedalaman untuk tingkat pelajar, para peserta bersaing untuk menjadi yang terbaik dalam lomba itu. Pada malam harinya ritual adat belian kembali dilaksanakan, kali ini acara tersebut tidak hanya dibawakan oleh masyarakat Kutai saja melainkan juga dibawakan oleh masyarakat dari suku Dayak Basap. Suasana mistis kian terasa menyelimuti lokasi acara, konon pada zaman dahulu kegiatan ini sering digunakan sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan arwah leluhur. Selain itu ritual ini sering digunakan sebagai sarana pengobatan bagi masyarakat yang sakit.
Di hari berikutnya acara final lomba olahraga tradisional dan pada sore harinya acara fashion show bagi kategori anak dan dewasa dipertandingkan. Dengan berbalut busana dari berbagai daerah di Indonesia semua peserta berlenggak-lenggok memperagakan gayanya di depan para dewan juri dengan maksud mencuri perhatiannya untuk menjadi yang terbaik. Usai fashion show acara dilanjutkan dengan senam zumba, masyarakat yang hadir di lokasi turut mengikuti setiap gerakan yang diarahkan oleh pemandu. Masih di hari yang sama pada malam harinya acara diisi dengan pengajian dan doa bersama untuk kemajuan dan keselamatan kutai timur. Selain suguhan dengan berbagai acara hiburan, perlombaan hingga ritual adat yang terpusat di satu titik, expo pelas tanah 3 merupakan suguhan lainnya dari pesta adat pelas tanah 3 ini. Berbagai dagangan pun dijajakan mulai dari kuliner, aksesoris, pakaian, dan lainnya kian memanjakan setiap pengunjung yang datang ke lokasi.
Seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang” kalau kita tidak mengenal adat dan budaya  yang dimiliki Kutai timur bagaimana kita bisa menjaga merawat bahkan menyayangi adat istiadat tersebut. Oleh karena itu, lewat pesta adat Pelas Tanah ini, Lembaga Adat Besar Kutai Kabupaten Kuutai Timur memperkenalkan kebudayaan serta adat istiadat kepada masyarakat luas.
Malam harinya di Taman Bersemi STQ acara dimeriahkan dengan penampilan dari berbagai paguyuban yang berada dibawah naungan Lembaga Adat Besar Kutai Timur. Lomba bemamai atau lomba marah-marah dengan menggunakan bahasa Kutai menambah suasana menjadi riuh karena suara tawa dari masyarakat yang hadir menyaksikan acara tersebut.
Bupati Kutai Timur menutup perhelatan Pesta Adat Pelas Tanah III, pada hari Sabtu, 27 Oktober 2018 malam. Malam penutupan itu diawali dengan penyerahan hadiah berbagai kategori lomba. Mulai lomba olahraga tradisional, fashion show hingga pentas seni. Selain jajaran Pemerintah Kabupaten Kutim dan Adat Besar Kutai Kutim, puncak penutupan acara juga dihadiri Putra Mahkota Kutai Kartanegara Sultan Haji Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat beserta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara serta tokoh-tokoh adat dari berbagai etnis. 

(Imroah)
~bersambung~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar